KOMITMEN IJTIHAD

Leave a Comment



Bismillahhirrahmanirrahim..
Kamu pernah gagal? Kamu pernah melakukan kesalahan? Atau pernah merasa pernah bersikap bodoh?, so.. Itu adalah kesalahan dan kegagalan kamu seutuhnya?. Ingatlah, tidak ada yang salah,itu hanyalah proses untuk menjadi lebih baik lagi, karena  manusia sudah diciptakan dalam kondisi yang sebaik-baiknya, ijtihad harus selalu ada. Bahkan cacat fisikfun tidak mengurangi kebaikan manusia.




“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Qs. At-Tiin:4)


Jika Allah mengatakan bahwa kita sebaik-baiknya makhluk, mengapa kita memvonis diri yang negatif?. Memvonis diri bukan hanya oleh perkataan saja, tetapi pikiran dan  tindakan pun menggambarkan anggapan terhadap diri. Kita  memiliki potensi yang dahsyat, lalu mengapa masih banyak orang yang menyia-nyiakan potensi tersebut? Ada dua kemungkinana:


  1.  Dia tidak bersyukur atas nikmat potensi yang diberikan Allah kepadanya, sebagai bukti dia menyia-nyiakannya.
  2.  Dia memvonis dirinya tidak mampu. Mungkin dia tidak mengatakan bahwa dirinya tidak mempu, tetapi perilakunya menunjukkan bahwa dia menganggap dirinya tidak mampu.

Kita dilahirkan dalam kondisi nol. Kita menjadi pribadi tertentu karena perubahan yang dilakukan oleh manusia (termasuk oleh orang tua dan diri sendiri). Artinya, meskipun kita pernah melakukan berbagai kesalahan dan mengalami kegagalan, itu adalah hasil pikiran dan tindakan kita. Bukan takdir kita, sebab kita lahir dalam keadaan fitrah. Jika akhlaq kita adalah bentukan manusia (Kita dan orang tua), maka kita bisa mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik atau sesuai dengan yang kita inginkan. Jika diri kita saat ini adalah hasil dari pikiran dan tindkan, maka kita bisa berubah dengan mengubah pikiran dan tindakan kita. Kita bisa!

[HR. Ahmad dalam Musnadnya, Hadits Mu’adz ibn Jabal, 5/230 Hadits no. 22357]

Diriwayatkan dari Mu’adz Ibnu Jabal ra. Bahwasannya ketika Rasulullah Saw. mengutusnya ke Yaman, beliau bertanya kepadanya, “Bagaimana kau memutuskan perkara jika kau dihadapkan pada persoalan hukum?” Ia menjawab, “Saya akan memutuskan perkara dengan merujuk Kitab Allah”. Beliau bertanya lagi, “Lalu jika tidak kau temukan ketentuan hkumnya dalam Kitab Allah?” Ia menjawab “Saya akan memutuskan perkera dengan merujuk Sunnah Rasulullah saw.” Beliau bertanya lagi “Lalu jika tidak kau temukan juga dalam sunnah Rasulullah?” Ia menjawab, “Saya akan berijtihad dengan pendapat rasio saya dan tidak akan menyerah.” Narator (Mu’adz) bercerita-kali ini dengan bahasa orang pertama: Rasulullah saw. Lantas menepukkan tangannya ke dadaku dan berujar,”Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan  Rasul Allah untuk melakukan apa yang membuat Rasulullah ridha” 


 Source: Buku Sukses ala Nabi (50 Hadits Motivasi). Book author: Mohammad Hamid.
 


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.