“Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Qs. At-Tiin:4)
Jika Allah mengatakan bahwa kita sebaik-baiknya
makhluk, mengapa kita memvonis diri yang negatif?. Memvonis diri
bukan hanya oleh perkataan saja, tetapi pikiran dan tindakan pun menggambarkan anggapan terhadap
diri. Kita memiliki potensi yang dahsyat, lalu mengapa masih banyak orang yang menyia-nyiakan potensi tersebut? Ada dua
kemungkinana:
- Dia tidak bersyukur atas nikmat potensi yang diberikan Allah kepadanya, sebagai bukti dia menyia-nyiakannya.
- Dia memvonis dirinya tidak mampu. Mungkin dia tidak mengatakan bahwa dirinya tidak mempu, tetapi perilakunya menunjukkan bahwa dia menganggap dirinya tidak mampu.
Kita dilahirkan dalam kondisi
nol. Kita menjadi pribadi tertentu karena perubahan yang dilakukan oleh manusia
(termasuk oleh orang tua dan diri sendiri). Artinya, meskipun kita pernah
melakukan berbagai kesalahan dan mengalami kegagalan, itu adalah hasil pikiran
dan tindakan kita. Bukan takdir kita, sebab kita lahir dalam keadaan fitrah. Jika
akhlaq kita adalah bentukan manusia (Kita dan orang tua), maka kita bisa
mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik atau sesuai dengan yang kita
inginkan. Jika diri kita saat ini adalah hasil dari
pikiran dan tindkan, maka kita bisa berubah dengan mengubah pikiran dan
tindakan kita. Kita bisa!
[HR. Ahmad dalam Musnadnya,
Hadits Mu’adz ibn Jabal, 5/230 Hadits no. 22357]
|
Diriwayatkan dari Mu’adz Ibnu
Jabal ra. Bahwasannya ketika Rasulullah Saw. mengutusnya ke Yaman, beliau
bertanya kepadanya, “Bagaimana kau memutuskan perkara jika kau dihadapkan pada
persoalan hukum?” Ia menjawab, “Saya akan memutuskan perkara dengan merujuk
Kitab Allah”. Beliau bertanya lagi, “Lalu jika tidak kau temukan ketentuan
hkumnya dalam Kitab Allah?” Ia menjawab “Saya akan memutuskan perkera dengan
merujuk Sunnah Rasulullah saw.” Beliau bertanya lagi “Lalu jika tidak kau
temukan juga dalam sunnah Rasulullah?” Ia menjawab, “Saya akan berijtihad
dengan pendapat rasio saya dan tidak akan menyerah.” Narator (Mu’adz)
bercerita-kali ini dengan bahasa orang pertama: Rasulullah saw. Lantas menepukkan
tangannya ke dadaku dan berujar,”Segala puji bagi Allah yang telah memberi
taufiq kepada utusan Rasul Allah untuk
melakukan apa yang membuat Rasulullah ridha”

0 komentar:
Posting Komentar